News
Home » Hujjah Aswaja » Kemakruhan-Kemakruhan Saat Berpuasa
Untitled-2
Kemakruhan-Kemakruhan Saat Berpuasa

Kemakruhan-Kemakruhan Saat Berpuasa

Kemakruhan-Kemakruhan Saat Berpuasa

Hal-Hal yang Dimakruhkan dalam Berpuasa, ada 8 (delapan):

1. Mengunyah sesuatu tanpa ada yang sampai ke tenggorokan (jika ada yang sampai ke tenggorokan, puasanya batal).

2. Mencicipi makanan tanpa ada perlunya, (dengan syarat tidak ada makanan yang sampai ke tenggorokan, jika ada, puasanya batal). Adapun jika ada hajat, seperti untuk merasakan makanan, hukumnya tidak makruh. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas:
ู„ุงูŽ ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฐููˆู’ู‚ูŽ ุงู„ุฎูŽู„ู‘ูŽ ุฃูŽูˆู’ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุกูŽ ู…ูŽุงู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู’ ุญู„ู’ู‚ูŽู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุตูŽุงุฆูู…ูŒ. ุฑูˆุงู‡ ุงุจู† ุฃุจูŠ ุดูŠุจุฉ ุจุณู†ุฏ ุญุณู†
โ€œTidak mengapa ia mencicipi cuka atau sesuatu, selama (benda itu) tidak masuk ke tenggorokannya dan ia dalam keadaan berpuasa.โ€ (HR. Ibnu Syaibah dengan sanad hasan)

3. Hijamah (cantuk), yaitu mengeluarkan darah kotor, karena bisa menyebabkan tubuh menjadi lemah. Diriwayatkan dari Tsabit al-Bunani bahwa ia bertanya kepada Anas:
ุฃูŽูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูƒู’ุฑู‡ููˆู’ู†ูŽ ุงู„ุญูุฌูŽุงู…ูŽุฉูŽ ู„ูู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู‡ู’ุฏู ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ุงูŽ, ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฌู’ู„ู ุงู„ุถู‘ูŽุนู’ูู. ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ
โ€œApakah dulu di zaman Rasulullah saw, kalian memakruhkan hijamah (cantuk) bagi orang yang berpuasa?โ€ Anas menjawab, โ€œTidak, kecuali bila menyebabkan tubuh lemah.โ€ (HR. Bukhari).

Demikian pula dengan hukum donor darah. Hukumnya boleh, kecuali bila dapat menyebabkan tubuh menjadi lemah.

4. Membuang (Jawa: nglepeh) air dari mulut saat berbuka, karena bisa menghilangkan barakah puasa.

5. Mandi dengan cara berendam, walaupun mandinya merupakan mandi wajib.

6. Siwak setelah Dzuhur, karena bisa menghilangkan bau mulut. Menurut Imam Nawawi, hukumnya tidak makruh.

7. Terlalu kenyang saat berbuka atau sahur, dan banyak tidur, serta melakukan perbuatan yang tidak semestinya. Karena hal tersebut bisa menghilangkan hikmah puasa.

8. Melakukan keinginan-keinginan yang mubah (boleh), yang biasanya dilakukan oleh indra penciuman (hidung), indra penglihatan (mata), indra pendengaran (telinga), dan sebagainya.

Faris Khoirul Anam

http://fariskhoirulanam.com/fikih/kemakruhan-kemakruhan-saat-berpuasa.html

Kemakruhan-Kemakruhan Saat Berpuasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

BIGTheme.net โ€ข Free Website Templates - Downlaod Full Themes