News
Home » Hujjah Aswaja » Sekelumit Penjelasan tentang Qunut
Untitled-2
Sekelumit Penjelasan tentang Qunut

Sekelumit Penjelasan tentang Qunut

Sekelumit Penjelasan tentang Qunut

M Luqmanul Hakim SP.dI (Tim Narasumber PW Aswaja NU Center Jatim)

 

Sebagaimana diketahui, qunut adalah  amal sunnah yang menjadi tradisi kaum muslimin utamanya di tanah air. Ibadah tersebut biasa dilakukan saat Shalat Shubuh, maupun pada separuh terakhir  Shalat Tarawih. Juga kerap dilaksanakan ketika terjadi musibah yang menimpa kaum muslimin.

Bagaimanakah sebenarnya pandangan syariat dalam masalah qunut ini? Mengingat sampai saat ini masih saja ada sejumlah kalangan yang mempertanyakan status hukumnya.

Perlu diketahui bahwa dalam pandangan fikih, ada tiga macam qunut yang disyariatkan Nabi Muhammad SAW.

 Pertama adalah Qunut Nazilah,  yaitu qunut yang dilakukan karena adanya musibah yang menimpa kaum muslimin seperti ketakutan, kelaparan, bencana dan lain sebagainya.

Pendapat para ulama lintas madzhab menjelaskan bahwa para ulama sepakat disunnahkanya qunut nazilah ketika terjadi musibah yang menimpa kaum muslimin di daerah setempat atau di belahan bumi lainya. Meski di antara mereka terjadi perbedaan pendapat tentang tata cara pelaksanaanya.

Hal ini didasarkan kepada yang dilakukan Nabi Muhammad SAW yang membaca qunut selama satu bulan demi mendoakan kehancuran pada suku Ri’l, suku Lahyan dan suku Ushayyah.  Hal tersebut dilakukan manakala delegasi baginda yang berjumlah 70 orang dari kalangan sahabat yang ditugaskan mengajarkan Islam dibunuh oleh kaum musyrikin di Bi’ri Ma’unah pada bulan Shafar tahun ke 4 hijriyyah (Lihat di Misykatul Mashabih juz 4 hal: 608).

Sebagaimana riwayat berikut ini ;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الَّذِينَ قَتَلُوا يَعْنِي أَصْحَابَهُ بِبِئْرِ مَعُونَةَ ثَلَاثِينَ صَبَاحًا حِيْنَ يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ وَلَحْيَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الَّذِينَ قُتِلُوا أَصْحَابِ بِئْرِ مَعُونَةَ قُرْآنًا قَرَأْنَاهُ حَتَّى نُسِخَ بَعْدُ بَلِّغُوا قَوْمَنَا فَقَدْ لَقِينَا رَبَّنَا فَرَضِيَ عَنَّا وَرَضِينَا عَنْهُ (صحيح البخاري- (5 / 107)

Dari Anas bin Malik RA ia berkata: Nabi SAW mendoakan kehancuran atas orang-orang yang membunuh sahabatnya di Bi’ri Ma’unah selama 30 hari. (demikian pula) Beliau mendoakan kehancuran atas suku Ri’l, suku Lahyan dan suku Ushayyah yang telah durhaka kepada Allah dan rasul-Nya SAW. Anas berkata: Maka Allah menurunkan al-Quran berkenaan dengan para sahabatnya yang terbunuh di Bi’ri Ma’unah kemudian dinasakh, yaitu “Sampaikan pada kaum kami bahwa sungguh kami telah berjumpa dengan Tuhan kami Ia meridhai kami dan kami juga ridha pada-Nya.” (HR Bukhari dari Anas bin Malik, Shahih Bukhari hadits no: 4095).

 

Juga riwayat berikut ini:

عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِى الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ الأَخِيرَةِ يَدْعُو عَلَيْهِمْ عَلَى حَىٍّ مِنْ بَنِى سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ يَدْعُوهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ فَقَتَلُوهُمْ.

أخرجه أحمد 1/301(2746) قال : حدثنا عبد الصمد ، وعفان. و”أبو داود” 1443 قال : حدثنا عبد الله بن معاوية الجُمَحي. و”ابن خزيمة” 618 قال : حدثنا محمد بن يحيى ، أخبرنا أبو النعمان.

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW membaca qunut selama satu bulan berturut-turut saat Shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh di akhir shalat yaitu tatkala beliau membaca “sami’allahu liman hamidah” pada rakaat terakhir. Ia mendoakan kehancuran atas suku Nani Sulaim yaitu suku Ri’l, Dzakwan dan Ushaiyyah dan para sahabat yang membaca amin di belakang beliau karena Rasululloh telah mendelegasikan para sahabatnya untuk mengajak Islam lalu mereka dibunuh. (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

Adapun dalam pelaksanaan qunut ini terjadi perbedaan pendapat dari kalangan ulama:

Ulama madzhab Syafi’i, Hambali, Malikiy berpendapat; bahwa (membaca qunut tersebut) sunnah pada semua shalat fardhu. Menurut Madzhab Hambali, kecuali pada shalat Jum’at tidak lagi dianjurkan membaca qunut karena telah tercukupi dengan doa dalam khutbah Jumat.

Menurut madzhab Hanafi, membaca qunut di akhir rakaat sunnah hanya pada pada shalat jahriyah saja yakni Subuh, Maghrib dan Isya sebelum ruku. Hal ini sebagaimana dalam redaksi berikut:

 (اَلصَّحِيْحُ) الْمَشْهُوْرُ الَّذِى قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُوْرُ اِنْ نَزَلَتْ بِالْمُسْلِمِيْنَ نَازِلَةٌ كَخَوْفٍ أَوْ قَحْطٍ أَوْ وَبَاءٍ أَوْ جَرَادٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ قَنَتُوْا فِي جَمِيْعِهَا وَإِلَّا فَلَا .(( المجموع شرح المهذب – (3 / 494)))

Pendapat yang shahih dan masyhur yang ditetapkan para mayoritas ulama adalah: Jika kaum muslimin tertimpa musibah seperti ketakutan, kelaparan atau paceklik, wabah, hama belalang dan lain sebagainya, maka mereka membaca qunut pada seluruh shalat fardhu. Jika tidak, maka mereka tidak melaksanakan. (Al-Majmu’ syarh Muhaddzab 3/494)

ثَانياً ـ اَلْقُنُوْتُ أَثْنَاءَ النَّوَازِلِ:

قَالَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ  : يُشْرَعُ الْقُنُوْتُ لِلنَّازِلَةِ لاَ مُطْلَقاً، فِي الْجَهْرِيَّةِ فَقَطْ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، وَفِي سَائِرِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ عِنْدَ غَيْرِهِمْ إِلاَّ الْجُمُعَةَ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ اِكْتِفَاءً فِي خُطْبَتِهَا، وَيَجْهَرُ فِي دُعَائِهِ فِي هَذَا الْقُنُوْتِ. (الفقه الإسلامي وأدلته – (2 / 179)

Ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa qunut karena terjadi musibah dilaksanakan secara tidak mutlak, yakni hanya pada shalat jahriyyah saja menurut hanafiyyah. Dan pada seluruh shalat menurut selain mereka, kecuali pada shalat Jumat menurut Hanabilah karena mereka menganggap cukup dengan (doa pada) khutbahnya dan hendaknya mengeraskan suara dalam membaca doa dalam qunut ini. (Al-Fiqh al-islamiy wa Adillatihi 2/179)

 

Kedua adalah Qunut Shalat Subuh. Para ulama lintas madzhab berbeda pendapat tentang qunut ini. Ada yang tidak mensunahkan yaitu ulama Hanafiyah dan Hanabilah, sedangkan Syafi’iyah dan Malikiyah menganggapnya sunnah meski ada perbedaan pada pelaksanaaannya. Ulama Syafi’iyah  melaksanakan qunut sesudah ruku pada rakaat kedua. Sedangkan ulama Malikiyah berpendapat yang paling utama melaksanakan qunut adalah sebelum ruku.

Berikut data dari literatur fikih tersebut:

اَلْمَبْحَثُ السَّادِسُ ـ اَلْقُنُوْتُ فِي الصَّلاَةِ : يُنْدَبُ اَلْقُنُوْتُ فِي الصَّلاَةِ، لَكِن الْفُقَهَاءُ اخْتَلَفُوْا فِي تَحْدِيْدِ الصَّلاَةِ الَّتِي يَقْنُتُ فِيْهَا عَلَى آرَاءٍ، فَقَالَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ: يَقْنُتُ فِي الْوِتْرِ، قَبْلَ الرُّكُوْعِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، وَبَعْدَ الرُّكُوْعِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، وَلاَ يَقْنُتُ فِي غَيْرِهِ مِنَ الصَّلَوَاتِ. وَقَالَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ: يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ بَعْدَ الرُّكُوْعِ، وَالْأَفْضَلُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ، وَيُكْرَهُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ عَلَى الظَّاهِرِ الْقُنُوْتُ فِي غَيْرِ الصُّبْحِ. )الفقه الإسلامي وأدلته – (2 / 171)

Pembahasan yang keenam – qunut dalam shalat: Disunahkan qunut dalam shalat namun para ulama fiqih berbeda pendapat atas batasan-batasanya. Menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah sunah qunut dalam shalat witir sebelum ruku. Menurut Hanafiyah sesudah ruku, dan menurut Hanabilah tidak sunah qunut pada selain shalat witir. Ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat, sunah qunut pada shalat Subuh setelah ruku. Menurut Malikiyah yang paling utama adalah sebelum ruku, dan dimakruhkan qunut pada selain shalat Subuh (al Fiqh al Islami wa Adillatihi 2/171).

Para ulama yang mensunahkan qunut pada Shalat Subuh ini didasarkan pada sebuah hadits:

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ مَا زَالَ رَسُولُ اللهِ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا.(رواه أحمد والدارقطني).

Diriwayatkan dari Anas Ibn Malik RABeliau berkata: “Rasulullah  SAW senantiasa membaca qunut ketika Shalat Subuh sehingga beliau wafat.” (Musnad Ahmad bin Hanbal, juz III, hal. 162 [12679], Sunan al-Daraquthni, juz II, hal. 39).

 

Sanad hadits ini shahih sehingga dapat dijadikan pedoman. Imam Nawawi di dalam kitab al-Majmu’ menegaskan:

حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ رَوَاهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ وَصَحَّحُوْهُ وَمِمَّنْ نَصَّ عَلَى صِحَّتِهِ اْلحَافِظُ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍ الْبَلْخِي، وَالْحَاكِمُ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ فِي مَوَاضِعَ مِنْ كُتُبِ الْبَيْهَقِي وَرَوَاهُ الدَّارَقُطْنِي مِنْ طُرُقٍ بِأَسَانِيْدَ صَحِيْحَةٍ (المجموع ج 3 ص 504).

 

“Hadits tersebut adalah shahih. Diriwayatkan oleh banyak ahli hadits dan mereka kemudian menyatakan kesahihannya. Di antara orang yang menshahihkannya adalah al-Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Ali al-Balkhi serta al-Hakim Abu Abdillah di dalam beberapa tempat di dalam kitab al-Baihaqi. Al-Daraquthni juga meriwayatkannya dari berbagai jalur sanad yang shahih. (Al-Majmu’ Juz III hal: 504).

Ketiga, Qunut pada Shalat Witir. Pada dasarnya para ulama sepakat dalam kesunnahan Qunut di seluruh shalat, namun terdapat perbedaan pendapat yaitu: Ulama Hanafiyah berpendapat wajib setelah membaca surat sebelum ruku’ pada rakaat ketiga (ganjil) dalam witir.

Ulama Syafi’iyah berpendapat, qunut sunnah pada i’tidal rakaat terahir Shalat Subuh dan pada separuh yang akhir dari bulan Ramadhan setelah ruku dan sunnah diganti sujud sahwi tatkala ditinggalkan.

Ulama Hanabilah mengatakan, sunnah mengerjakan qunut pada shalat witir sepanjang tahun setelah ruku sebagaimana dalam fatwa ulama Al-Azhar Mesir berikut ini:

 اَلْقُنُوْتُ وَاجِبٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ بَعْدَ قِرَاءَةِ السُّوْرَةِ فِى الرَّكْعَةِ الثَّالِثَةِ مِنَ الْوِتْرِ فَقَطْ وَهُوَ سُنَّةٌ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ فِى اعْتِدَالِ الرَّكْعَةِ الْأَخِيْرَةِ مِنَ الصُّبْحِ وَفِى وِتْرِ النِّصْفِ الثَّانِى مِنْ رَمَضَانَ وَيُجْبَرُ إِذَا تُرِكَ بِسُجُوْدِ السَّهْوِ . وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ سُنَّةٌ فِى الْوِتْرِ فِى جَمِيْعِ السَّنَةِ ((فتاوى الأزهر *  – (1 / 33)))

Menurut ulama  Hanafiyah, qunut adalah wajib setelah membaca surat pada rakaat ketiga dari Shalat Witir saja. Menurut ulama Syafi’iyah adalah sunnah ketika i’tidal pada rakaat terakhir di separuh terakhir bulan Ramadhan, serta sunah diganti dengan sujud sahwi tatkala ditinggalkan. Dan menurut Hanabilah adalah sunnah pada shalat witir sepanjang tahun (Fatawa al Azhar 1/33).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes