News
Home » Artikel » ISLAM PRO TRADISI VS WAHABI ANTI TRADISI JAWABAN TERHADAP WAHABI
ISLAM PRO TRADISI VS WAHABI ANTI TRADISI JAWABAN TERHADAP WAHABI

ISLAM PRO TRADISI VS WAHABI ANTI TRADISI JAWABAN TERHADAP WAHABI

 

WAHABI: โ€œMayoritas umat Islam Indonesia itu ahli bidโ€™ah, karena mereka masih kuat memegang tradisi-tradisi yang berkembang dari nenek moyang mereka sebelumnya. Sedangkan Islam itu jelas anti tradisi. Islam itu hanya al-Qurโ€™an dan hadits saja.โ€™


SUNNI: โ€œPernyataan Anda berangkat dari konsep yang keliru, yakni beranggapan bahwa Islam anti tradisi. Padahal tidak demikian. Dalam pernyataan Anda islam-tradisi-vs-anti-tradisiada dua kesalahan fatal. Pertama, menganggap dasar Islam hanya al-Qurโ€™an dan hadits. Padahal sejak masa ulama salaf, dasar agama itu ada empat, al-Qurโ€™an, hadits, ijmaโ€™ dan Qiyas. Kedua, Anda berasumsi bahwa Islam anti tradisi. Padahal tidak demikian. Tradisi itu ada yang dapat diterima oleh Islam dan ada yang tidak dapat diterima. Cara berpikir Anda sangat picik dan sempit.โ€

WAHABI: โ€œMana dalil Anda bahwa Islam dapat menerima tradisi?โ€

SUNNI: โ€œAnda harus memahami, bahwa Islam itu agama. Islam bukan budaya dan bukan tradisi. Tapi harus dipahami bahwa Islam tidak anti budaya dan tradisi. Bahkan ketika suatu budaya dan tradisi masyarakat yang telah berjalan tidak dilarang dalam agama, maka dengan sendirinya menjadi bagian dari syariโ€™ah Islam. Demikian ini sesuai dengan dalil-dalil al-Qurโ€™an, Hadits dan atsar kaum salaf yang dipaparkan oleh para ulama dalam kitab-kitab yang muโ€™tabar (otoritatif).

1. Tradisi menurut al-Qurโ€™an.
Allah subhanahu wataโ€™ala berfirman:

ุฎูุฐู ุงู„ู’ุนูŽูู’ูˆูŽ ูˆูŽุฃู’ู…ูุฑู’ ุจูุงู„ู’ุนูุฑู’ูู ูˆูŽุฃูŽุนู’ุฑูุถู’ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู†ูŽ (ุงู„ุฃุนุฑุงู: 199)

โ€œJadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang maโ€™ruf (tradisi yang baik), serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.โ€. (QS. al-Aโ€™raf : 199).

Dalam ayat di atas Allah memerintahkan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam agar menyuruh umatnya mengerjakan yang maโ€™ruf. Maksud dari โ€˜urf dalam ayat di atas adalah tradisi yang baik. Syaikh Wahbah al-Zuhaili berkata:

ูˆูŽุงู„ู’ูˆูŽุงู‚ูุนู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏูŽ ุจูุงู„ู’ุนูุฑู’ูู ูููŠ ุงู’ู„ุขูŽูŠูŽุฉู ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูุบูŽูˆููŠู‘ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู’ู„ุฃูŽู…ู’ุฑู ุงู„ู’ู…ูุณู’ุชูŽุญู’ุณูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆู’ูู

โ€œYang realistis, maksud dari โ€˜uruf dalam ayat di atas adalah arti secara bahasa, yaitu tradisi baik yang telah dikenal masyarakat.โ€ (Al-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, 2/836).

Penafsiran โ€˜urf dengan tradisi yang baik dan telah dikenal masyarakat dalam ayat di atas, sejalan dengan pernyataan para ulama ahli tafsir. Al-Imam al-Nasafi berkata dalam tafsirnya:

(ูˆูŽุฃู’ู…ูุฑู’ ุจูุงู„ู’ุนูุฑู’ูู) ู‡ููˆูŽ ูƒูู„ ู‘ูุฎูŽุตู’ู„ูŽุฉู ูŠูŽุฑู’ุชูŽุถููŠู’ู‡ูŽุง ุงู„ู’ุนูŽู‚ู’ู„ู ูˆูŽูŠูŽู‚ู’ุจูŽู„ูู‡ูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽุฑู’ุนู.

โ€œSuruhlah orang mengerjakan yang โ€˜urf , yaitu setiap perbuatan yang disukai oleh akal dan diterima oleh syaraโ€™.โ€ (Tafsir al-Nasafi, juz 2 hlm 82).

Al-Imam Burhanuddin Ibrahim bin Umar al-Biqaโ€™i juga berkata:

(ูˆูŽุฃู’ู…ูุฑู’ ุจูุงู„ู’ุนูุฑู’ูู) ุฃูŽูŠู’ ุจููƒูู„ู‘ู ู…ูŽุง ุนูŽุฑูŽููŽู‡ู ุงู„ุดู‘ูŽุฑู’ุนู ูˆูŽุฃูŽุฌูŽุงุฒูŽู‡ูุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽูู’ูˆู ุณูู‡ููˆู’ู„ูŽุฉู‹ ูˆูŽุดูŽุฑูŽูุงู‹

โ€œSuruhlah orang mengerjakan yang โ€˜urf, yaitu setiap perbuatan yang telah dikenal baik oleh syaraโ€™ dan dibolehkannya. Karena hal tersebut termasuk sifat pemaaf yang ringan dan mulia.โ€ (Al-Biqaโ€™i, Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, juz 3 hlm 174).

Oleh karena yang dimaksud dengan โ€˜urf dalam ayat di atas adalah tradisi yang baik, al-Imam al-Syaโ€™rani berkata:

ูˆูŽู…ูู†ู’ ุฃูŽุฎู’ู„ุงูŽู‚ูู‡ูู…ู’ ุฃูŽูŠ ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽูู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’ ุชูŽูˆูŽู‚ู‘ูููู‡ู’ู… ุนูŽู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ููุนู’ู„ู ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุนู’ุฑููููˆู’ุง ู…ููŠู’ุฒูŽุงู†ูŽู‡ู ุนูŽู„ู‰ูŽ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู ุฃูŽูˆู ุงู„ู’ุนูุฑู’ููุŒ ู„ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุนูุฑู’ููŽ ู…ูู†ู’ ุฌูู…ู’ู„ูŽุฉู ุงู„ุดู‘ูŽุฑููŠู’ุนูŽุฉูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰: ุฎูุฐู ุงู„ู’ุนูŽูู’ูˆูŽ ูˆูŽุฃู’ู…ูุฑู’ ุจูุงู„ู’ุนูุฑู’ูู ูˆูŽุฃูŽุนู’ุฑูุถู’ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู†ูŽ (ุงู„ุฃุนุฑุงู: 199)

โ€œDi antara budi pekerti kaum salaf yang shaleh, semoga Allah meridhai mereka, adalah penundaan mereka terhadap setiap perbuatan atau ucapan, sebelum mengetahui pertimbangannya menurut al-Qurโ€™an dan hadits atau tradisi. Karena tradisi termasuk bagian dari syariโ€™ah. Allah SWT berfirman: โ€œโ€œJadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang โ€˜urf (tradisi yang baik), serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.โ€. (QS. al-Aโ€™raf : 199).โ€ (Al-Imam al-Syaโ€™rani, Tanbih al-Mughtarrin, hlm 14).

Paparan di aras memberikan kesimpulan, bahwa tradisi dan budaya termasuk bagian dari syariโ€™ah (aturan agama), yang harus dijadikan pertimbangan dalam setiap tindakan dan ucapan, berdasarkan ayat al-Qurโ€™an di atas.โ€

WAHABI: โ€œOwh, ternyata ajaran al-Qurโ€™an tidak menolak tradisi dan budaya, selama tidak bertentangan dengan agama. Sekarang, apakah ada dalil hadits yang menguatkan paparan di atas?โ€

SUNNI: โ€œJelas ada. Islam itu datang tidak untuk menghapus tradisi, tetapi dalam rangkamemperbaiki dan menyempurnakan tradisi. Dalam hadits diterangkan:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจูู‰ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถูู‰ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุจูุนูุซู’ุชู ู„ุฃูุชูŽู…ู‘ูู…ูŽ ู…ูŽูƒูŽุงุฑูู…ูŽ ุงู„ุฃูŽุฎู’ู„ุงูŽู‚ู. ุฃุฎุฑุฌู‡ ุฃุญู…ุฏ ุŒ ูˆุงุจู† ุณุนุฏ ูˆุงู„ุญุงูƒู… ูˆุตุญุญู‡ ุนู„ู‰ ุดุฑุท ู…ุณู„ู…. ูˆุงู„ุจูŠู‡ู‚ู‰ ูˆ ุงู„ุฏูŠู„ู…ู‰.

โ€œAbu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu berkata: โ€œRasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: โ€œSesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.โ€ (HR. Ahmad [8939], Ibnu Saโ€™ad (1/192), al-Baihaqi [20571-20572], al-Dailami [2098], dan dishahihkan oleh al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim (2/670 [4221]).

Dalam banyak tradisi, seringkali terkandung nilai-nilai budi pekerti yang luhur, dan Islam pun datang untuk menyempurnakannya. Oleh karena itu, kita dapati beberapa hukum syariโ€™ah dalam Islam diadopsi dari tradisi jahiliah seperti hukum qasamah, diyat โ€˜aqilah, persyaratan kafaโ€™ah (keserasian sosial) dalam pernikahan, akad qiradh (bagi hasil), dan tradisi-tradisi baik lainnya dalam Jahiliyah. Demikian diterangkan dalam kitab-kitab fiqih. Sebagaimana puasa Asyura, juga berasal dari tradisi Jahiliyah dan Yahudi, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim.

Islam juga sangat toleran terhadap tradisi. Dalam hadits lain diterangkan:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู’ ู…ููˆู’ุณูŽู‰ ุงู’ู„ุฃูŽุดู’ุนูŽุฑููŠูู‘ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‰ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุจูŽุนูŽุซูŽูŽ ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ู ูููŠู’ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽู…ู’ุฑูู‡ู ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ยซุจุดู‘ูุฑูˆุง ุŒ ูˆู„ุง ุชูู†ูŽูู‘ูุฑููˆุง ุŒ ูˆูŠุณู‘ูุฑูˆุง ูˆู„ุง ุชูุนูŽุณู‘ูุฑูˆุงยป. ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู….

โ€œAbu Musa al-Asyโ€™ari radhiyallahu โ€˜anhu berkata: โ€œApabila Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam mengutus seseorang dari sahabatnya tentang suatu urusan, beliau akan berpesan: โ€œSampaikanlah kabar gembira, dan jangan membuat mereka benci (kepada agama). Mudahkanlah dan jangan mempersulit.โ€ (HR. Muslim [1732]).

Hadits di atas memberikan pesan bahwa Islam itu agama yang memberikan kabar gembira, dan tidak menjadikan orang lain membencinya, memudahkan dan tidak mempersulit, antara lain dengan menerima system dari luar Islam yang mengajak pada kebaikan. Sebagaimana dimaklumi, suatu masyarakat sangat berat untuk meninggalkan tradisi yang telah berjalan lama. Menolak tradisi mereka, berarti mempersulit keislaman mereka. Oleh karena itu dalam konteks ini Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda:

ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ู…ูุณู’ูˆูŽุฑู ุจู’ู†ู ู…ูŽุฎู’ุฑูŽู…ูŽุฉูŽ ูˆูŽู…ูŽุฑู’ูˆูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู†ูŽูู’ุณููŠ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ููˆู†ููŠ ุฎูุทู‘ูŽุฉู‹ ูŠูุนูŽุธู‘ูู…ููˆู†ูŽ ูููŠู‡ูŽุง ุญูุฑูู…ูŽุงุชู ุงู„ู„ู‡ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฃูŽุนู’ุทูŽูŠู’ุชูู‡ูู…ู’ ุฅููŠู‘ูŽุงู‡ูŽุง. ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ

โ€œDari Miswar bin Makhramah dan Marwan, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: โ€œDemi Tuhan yang jiwaku berada pada kekuasaan-Nya, mereka (kaum Musyrik) tidaklah meminta suatu kebiasaan (adat), dimana mereka mengagungkan hak-hak Allah, kecuali aku kabulkan permintaan mereka.โ€ (HR. al-Bukhari [2581]).

Dalam riwayat lain disebutkan:

ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ููŠ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฎูุทู‘ูŽุฉู ุŒ ูŠูุนูŽุธู‘ูู…ููˆู†ูŽ ูููŠู‡ูŽุง ุญูุฑู’ู…ูŽุฉู‹ ุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ููŠ ูููŠู‡ูŽุง ุฅูู„ูŽู‰ ุตูู„ูŽุฉู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฃูŽุฌูŽุจู’ุชูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง. ุฑูˆุงู‡ ุงุจู† ุฃุจูŠ ุดูŠุจุฉ

โ€œIngatlah, demi Allah, mereka (orang-orang musyrik) tidak mengajakku pada hari ini terhadap suatu kebiasaan, dimana mereka mengagungkan hak-hak Allah, dan tidak mengajukku suatu hubungan, kecuali aku kabulkan ajakan mereka.โ€ (HR. Ibnu Abi Syaibah, [36855]).

Hadits di atas memberikan penegasan, bahwa Islam akan selalu menerima ajakan kaum Musrik pada suatu tradisi yang membawa pada pengagungan hak-hak Allah dan ikatan silaturrahmi. Hal ini membuktikan bahwa Islam tidak anti tradisi.โ€

Perhatian Islam terhadap tradisi juga ditegaskan oleh para sahabat, antara lain Abdullah bin Masโ€™ud yang berkata:

ู‚ุงู„ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ู…ุณุนูˆุฏ : ู…ูŽุง ุฑูŽุขูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู’ู†ูŽ ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ููŽู‡ููˆูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุญูŽุณูŽู†ูŒ ูˆูŽู…ูŽุง ุฑูŽุขูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู’ู†ูŽ ุณูŽูŠูู‘ุฆุงู‹ ููŽู‡ููˆูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽูŠู‘ูุกูŒ. ุฑูˆุงู‡ ุฃุญู…ุฏ ูˆุฃุจูˆ ูŠุนู„ู‰ ูˆุงู„ุญุงูƒู…

Abdullah bin Masโ€™ud berkata: โ€œTradisi yang dianggap baik oleh umat Islam, adalah baik pula menurut Allah. Tradisi yang dianggap jelek oleh umat Islam, maka jelek pula menurut Allah.โ€ (HR. Ahmad, Abu Yaโ€™la dan al-Hakim).โ€

WAHABI: โ€œApa yang Anda paparkan itu kan konsep umum. Kami masih harus menggugat, apakah konsep tersebut dipraktekkan oleh para ulama sejak generasi salaf?โ€

SUNNI: โ€œAnda ini bagaimana, diberi konsep, malah tanya penerapannya di kalangan ulama. Ya pasti hal tersebut dipraktekkan oleh para ulama.โ€

WAHABI: โ€œMana buktinya bahwa para ulama salaf menerapkan konsep yang Anda paparkan tersebut.โ€

SUNNI: โ€œAnda ini lucu, masak ulama salaf tidak mengamalkan konsep yang sangat jelas dalam al-Qurโ€™an dan hadits? Ya jelas banyak contohnya. Dalam kitab-kitab hadits diriwayatkan:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุจู’ู†ู ูŠูŽุฒููŠุฏูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุนูุซู’ู…ูŽุงู†ู ุจูู…ูู†ู‹ู‰ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽูŠู’ุชู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽู…ูŽุนูŽ ุฃูŽุจูู‰ ุจูŽูƒู’ุฑู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽู…ูŽุนูŽ ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽู…ูŽุนูŽ ุนูุซู’ู…ูŽุงู†ูŽ ุตูŽุฏู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฅูู…ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุชูŽู…ู‘ูŽู‡ูŽุง. ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ุฃูŽุนู’ู…ูŽุดู ููŽุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูู‰ ู…ูุนูŽุงูˆููŠูŽุฉู ุจู’ู†ู ู‚ูุฑู‘ูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุดู’ูŠูŽุงุฎูู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽุจู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู‚ููŠู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุนูุจู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูุซู’ู…ูŽุงู†ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽูŠู’ุชูŽ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุฎูู„ุงูŽูู ุดูŽุฑู‘ูŒ. ุฑูˆุงู‡ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ูˆุงู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ

Dari Abdurrahman bin Yazid, berkata: โ€œUtsman menunaikan shalat di Mina empat rakaโ€™at.โ€ Lalu Abdullah bin Masโ€™ud berkata: โ€œAku shalat bersama Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam dua rakaโ€™at. Bersama Abu Bakar dua rakaโ€™at. Bersama Umar dua rakaโ€™at. Bersama Utsman pada awal pemerintahannya dua rakaโ€™at. Kemudian Utsman menyempurnakannya (empat rakaโ€™at). Ternyata kemudian Abdullah bin Masโ€™ud shalat empat rakaโ€™at. Lalu beliau ditanya: โ€œAnda dulu mencela Utsman karena shalat empat rakaโ€™at, sekarang Anda justru shalat empat rakaโ€™at juga.โ€ Ia menjawab: โ€œBerselisih dengan jamaโ€™ah itu tidak baik.โ€ (HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi).

Perhatikan dalam riwayat di atas, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam, Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar radhiyallahu โ€˜anhuma menunaikan shalat di Mina (ketika menunaikan ibadah haji, dengan di-qashar) dua rakaโ€™at. Kemudian Khalifah Utsman tidak melakukan qashar. Sahabat Ibnu Masโ€™ud radhiyallahu โ€˜anhu mencela Khalifah Utsman karena tidak melakukaan qashar shalat sebagaimana dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Meski begitu, karena Khalifah Utsman dan umat Islam pada saat itu tidak melakukajn qashar, Ibnu Masโ€™ud juga tidak melakukan qashar, demi menjaga kebersamaan dengan jamaโ€™ah, karena berbeda dengan jamaโ€™ah suatu keburukan. Lalu Anda bandingkan dengan sikap sebagian ormas Wahabi di Indonesia, setiap awal Ramadhan dan Syawal selalu berbeda dengan pemerintah dan mayoritas umat Islam dalam menetapkan waktu ibadah. Kaum Wahabi juga demikian, senang berbeda dengan umat Islam di sekitarnya, karena tidak tahu bahwa berbeda dengan mayoritas umat Islam itu suatu keburukan dalam kacamata ulama salaf.

Dalam kitab-kitab sejarah disebutkan:

ู‚ุงู„ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฑุงูุน : โ€ ูƒู†ุช ู…ุน ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุญู†ุจู„ ูˆุฅุณุญุงู‚ ุนู†ุฏ ุนุจุฏุงู„ุฑุฒุงู‚ ูุฌุงุกู†ุง ูŠูˆู… ุงู„ูุทุฑ ุŒ ูุฎุฑุฌู†ุง ู…ุน ุนุจุฏุงู„ุฑุฒุงู‚ ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ุตู„ู‰ ูˆู…ุนู†ุง ู†ุงุณ ูƒุซูŠุฑ ุŒ ูู„ู…ุง ุฑุฌุนู†ุง ู…ู† ุงู„ู…ุตู„ู‰ ุฏุนุงู†ุง ุนุจุฏุงู„ุฑุฒุงู‚ ุฅู„ู‰ ุงู„ุบุฏุงุก ุŒ ูู‚ุงู„ ุนุจุฏุงู„ุฑุฒุงู‚ ู„ุฃุญู…ุฏ ูˆุฅุณุญุงู‚ : ุฑุฃูŠุช ุงู„ูŠูˆู… ู…ู†ูƒู…ุง ุนุฌุจุงู‹ ุŒ ู„ู…ู’ ุชูƒุจู‘ุฑุง !ู‚ุงู„ ุฃุญู…ุฏ ูˆุฅุณุญุงู‚ : ูŠุง ุฃุจุงุจูƒุฑ ุŒ ู†ุญู† ูƒู†ุง ู†ู†ุธุฑ ุฅู„ูŠูƒ : ู‡ู„ ุชูƒุจู‘ุฑ ูู†ูƒุจู‘ุฑ ุŸ ูู„ู…ุง ุฑุฃูŠู†ุงูƒ ู„ู… ุชูƒุจู‘ุฑ ุฃู…ุณูƒู†ุง .ู‚ุงู„ : ุฃู†ุง ูƒู†ุช ุฃู†ุธุฑ ุฅู„ูŠูƒู…ุง : ู‡ู„ ุชูƒุจุฑุงู† ูุฃูƒุจู‘ุฑ โ€

โ€œMuhammad bin Rafiโ€™ berkata: โ€œAku bersama Ahmad bin Hanbal dan Ishaq di tempat Abdurrazzaq. Lalu kami memasuki hari raya Idul Fitri. Maka kami berangkan ke mushalla bersama Abdurrazzaq dan banyak orang. Setelah kami pulang dari mushalla, Abdurrazzaq mengajak kami sarapan. Lalu Abdurrazzaq berkata kepada Ahmad dan Ishaq: โ€œHari ini saya melihat keaneha pada kalian berdua. Mengapa kalin tidak membaca takbir?โ€ Ahmad dan Ishaq menjawab: โ€œWahai Abu Bakar, kami melihat engkau apakah engkau membaca takbir, sehingga kami juga bertakbir. Setelah kami melihat engkat tidak bertakbir, maka kami pun diam.โ€ Abdurrazzaq berkata: โ€œJustru aku melihat kalian berdua, apakah kalian bertakbir, sehingga aku akan bertakbir juga.โ€ (Al-Hafizh Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, juz 36 hlm 175; dan al-Dzahabi, Siyar Aโ€™lam al-Nubalaโ€™juz, 9 hlm 566 ).

Perhatikan dalam riwayat di atas, bagaimana Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih tidak bertakbir ketika berangkat ke mushalla pada hari raya idul fitri, karena melihat guru mereka, Imam Abdurrazzaq al-Shanโ€™ani tidak bertakbir. Sementara Imam Abdurrazzaq tidak bertakbir, karena melihat kedua muridnya yang sangat alim tidak bertakbir. Suatu budi pekerti yang sangat bagus, meninggalkan amalan sunnah, karena khawatir menyinggung perasaan orang di sekitarnya.

Paparan di atas semakin jelas apabila kita membaca pernyataan al-Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi al-Hanbali, murid Syaikh Ibnu Taimiyah, yang berkata dalam kitabnya al-Adab al-Syarโ€™iyyah sebagai berikut:

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุนูŽู‚ููŠู„ู ูููŠ ุงู„ู’ููู†ููˆู†ู ู„ุงูŽ ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ุงู„ู’ุฎูุฑููˆุฌู ู…ูู†ู’ ุนูŽุงุฏูŽุงุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฅู„ุงู‘ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ูŽ ุตูŽู„ู‰ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุนู’ุจูŽุฉูŽ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ (ู„ูŽูˆู’ู„ุงูŽ ุญูุฏู’ุซูŽุงู†ู ู‚ูŽูˆู’ู…ููƒู ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉูŽ) ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุนูู…ูŽุฑู ู„ูŽูˆู’ู„ุงูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูู‚ูŽุงู„ูŽ ุนูู…ูŽุฑู ุฒูŽุงุฏูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ู ู„ูŽูƒูŽุชูŽุจู’ุชู ุขูŠูŽุฉูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌู’ู…ู. ูˆูŽุชูŽุฑูŽูƒูŽ ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุฑูุจู ู„ุฅูู†ู’ูƒูŽุงุฑู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู„ูŽู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ูููŠ ุงู„ู’ููุตููˆู„ู ุนูŽู†ู’ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุฑูุจู ูˆูŽููŽุนูŽู„ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฅู…ูŽุงู…ูู†ูŽุง ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู ุซูู…ู‘ูŽ ุชูŽุฑูŽูƒูŽู‡ู ุจูุฃูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุช ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ู„ุง ูŠูŽุนู’ุฑููููˆู†ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽูƒูŽุฑูู‡ูŽ ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู ู‚ูŽุถูŽุงุกูŽ ุงู„ู’ููŽูˆูŽุงุฆูุชู ูููŠ ู…ูุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู’ุนููŠุฏู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽุฎูŽุงูู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ู’ุชูŽุฏููŠูŽ ุจูู‡ู ุจูŽุนู’ุถู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุฑูŽุงู‡ู . (ุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ูู‚ูŠู‡ ุงุจู† ู…ูู„ุญ ุงู„ุญู†ุจู„ูŠุŒ ุงู„ุขุฏุงุจ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉุŒ ูข/ูคูง)

โ€œImam Ibnu โ€˜Aqil berkata dalam kitab al-Funun, โ€œTidak baik keluar dari tradisi masyarakat, kecuali tradisi yang haram, karena Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam telah membiarkan Kaโ€™bah dan berkata, โ€œSeandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa-masa Jahiliyahโ€ฆโ€ Umar berkata: โ€œSeandainya orang-orang tidak akan berkata, Umar menambah al-Qurโ€™an, tentu aku tulis ayat rajam di dalamnya.โ€ Imam Ahmad bin Hanbal meninggalkan dua rakaโ€™at sebelum maghrib karena masyarakat mengingkarinya. Dalam kitab al-Fushul disebutkan tentang dua rakaโ€™at sebelum Maghrib bahwa Imam kami Ahmad bin Hanbal pada awalnya melakukannya, namun kemudian meninggalkannya, dan beliau berkata, โ€œAku melihat orang-orang tidak mengetahuinya.โ€ Ahmad bin Hanbal juga memakruhkan melakukan qadhaโ€™ shalat di mushalla pada waktu dilaksanakan shalat id (hari raya). Beliau berkata, โ€œSaya khawatir sebagian orang-orang yang melihat akan ikut-ikutan melakukannya.โ€ (Al-Imam Ibnu Muflih al-Hanbali, al-Adab al-Syarโ€™iyyah, juz 2, hal. 47).

Kaedah di atas sangat jelas, agar kita mengikuti tradisi masyarakat, selama tradisi tersebut tidak haram. Imam Ahmad bin Hanbal meninggalkan shalat sunnah qabliyah Jumโ€™at, juga karena tradisi masyarakatnya yang tidak pernah melakukannya dan menganggapnya tidak sunnah, untuk menjaga kebersamaan dan kerukunan dengan mereka.

Syaikh Ibnu Taimiyah, ulama panutan kaum Wahabi juga berkata:

ุฅุฐุง ุงู‚ุชุฏู‰ ุงู„ู…ุฃู…ูˆู… ุจู…ู† ูŠู‚ู†ุช ููŠ ุงู„ูุฌุฑ ุฃูˆ ุงู„ูˆุชุฑ ู‚ู†ุช ู…ุนู‡ ุŒ ุณูˆุงุก ู‚ู†ุช ู‚ุจู„ ุงู„ุฑูƒูˆุน ุฃูˆ ุจุนุฏู‡ ุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู† ู„ุง ูŠู‚ู†ุช ู„ู… ูŠู‚ู†ุช ู…ุนู‡ ุŒ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ุงู„ุฅู…ุงู… ูŠุฑู‰ ุงุณุชุญุจุงุจ ุดูŠุก ูˆุงู„ู…ุฃู…ูˆู…ูˆู† ู„ุงูŠุณุชุญุจูˆู†ู‡ ุŒ ูุชุฑูƒู‡ ู„ุฃุฌู„ ุงู„ุฅุชูุงู‚ ูˆุงู„ุฅุฆุชู„ุงู ูƒุงู† ู‚ุฏ ุฃุญุณู† โ€ฆ ูˆูƒุฐู„ูƒ ู„ูˆ ูƒุงู† ุฑุฌู„ ูŠุฑู‰ ุงู„ุฌู‡ุฑ ุจุงู„ุจุณู…ู„ุฉ ูุฃู…ู‘ ู‚ูˆู…ุงู‹ ู„ุง ูŠุณุชุญุจูˆู†ู‡ ุฃูˆ ุจุงู„ุนูƒุณ ูˆูˆุงูู‚ู‡ู… ูู‚ุฏ ุฃุญุณู† โ€

โ€œApabila makmum bermakmum kepada imam yang membaca qunut dalam shalat shubuh atau witir, maka ia membaca qunut bersamanya, baik ia membaca qunut sebelum rukuโ€™ atau sesudah rukuโ€™. Apabila imamnya tidak membaca qunut, maka ia juga tidak membaca qunut. Apabila imam berpendapat sunnahnya sesuatu, sementara para makmum tidak menganggapnya sunnah, lalu imam tersebut meninggalkan sesuatu itu demi kekompakan dan kerukunan, maka ia telah melakukan kebaikan. Demikian pula apabila seorang laki-laki berpendapat mengeraskan membaca basmalah dalam shalat, lalu menjadi imam suatu kaum yang tidak menganjurkannya, atau sebaliknya, dan ia menunaikan shalat seperti madzhab mereka, maka ia benar-benar melakukan kebaikan.โ€ (Syaikh Ibnu Taimiyah, Majmuโ€™ Fatawa, juz 22 hlm 268).

Paparan di atas memberikan kesimpulan suatu kaedah, bahwa keluar dari tradisi masyarakat itu tidak baik, selama tradisi tersebut tidak diharamkan dalam agama. Kaedah tersebut didasarkan pada al-Qurโ€™an, hadits, atsar para sahabat dan ulama salaf yang shaleh. Para ulama salaf yang shaleh terkadang meninggalkan amalan sunnah, semata menjaga kebersamaan dengan kaumnya yang menganggapnya tidak sunnah, sebagaimana banyak diceritakan dalam kitab-kitab sejarah dan hadits. Tidak jarang pula fatwa-fatwa para ulama juga berubah sesuai dengan perubahan tradisi, sebagaimana ditegaskan dalam kitab-kitab ushul fiqih dan qawaโ€™id. Terdapat sebelas macam kaedah fiqih yang berkaitan dengan tradisi. Bahkan Syaikh Ibnu Qayyimil Jauziyyah sangat membela kaedah tradisi berikut ini:

ุชุชุบูŠุฑ ุงู„ุฃุญูƒุงู… ุจุชุบูŠุฑ ุงู„ุฃุญูˆุงู„ ูˆุงู„ุฃุฒู…ุงู†

โ€œHukum-hukum agama dapat berubah sebab perubahan tradisi dan perkembangan zaman.โ€

Hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam kitabnya Aโ€™lam al-Muwaqqiโ€™in. Tentu saja hukum-hukum yang berubah sebab tradisi bukan hukum-hukum yang ditetapkan berdasarkan nash yang mutlak seperti wajibnya shalat lima waktu dan semacamnya.

Kiranya paparan sekelumit ini menjadi pelajaran bagi kita tentang pentingnya menjaga tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan agama.โ€.

WAHABI: โ€œOwh, begitu ya. Terima kasih.โ€ ย  ย {http://www.idrusramli.com/2015/islam-tradisi-vs-wahabi-anti-tradisi/}

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

BIGTheme.net โ€ข Free Website Templates - Downlaod Full Themes