News
Home » Artikel » Nahdliyin Jangan Sampai Kehilangan Identitas
Untitled-2
Nahdliyin Jangan Sampai Kehilangan Identitas

Nahdliyin Jangan Sampai Kehilangan Identitas

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي حبَّب العبادة إلى المتقين، وحبَّب قلوبهم للانشغال بطاعة رب العالمين وجنبهم من البدعة والضلالة, والصلاة والسلام على سيدنا ونبينا محمد وعلى آله وأصحابه والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين

Tarim, Yaman – Nahdliyin Jangan Sampai Kehilangan Identitas, Setiap orang tentunya mempunyai identitas, karenanya ia bisa dibedakan dengan orang lain. Identitas menurut Stella Ting Toomey merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi. Identitas pada dasarnya merujuk pada refleksi dari diri kita sendiri dan persepsi orang lain terhadap diri kita. Sementara itu, Gardiner W. Harry dan Kosmitzki Corinne melihat identitas sebagai pendefinisian diri seseorang sebagai individu yang berbeda dalam perilaku, keyakinan dan sikap.

Sebagai orang indonesia yang beragama islam, kita harus tahu identitas kita. Islam tersebar di Indonesia terjadi pada masa walisongo (sembilan wali) dengan damai tanpa pertumpahan darah. Islam di Indonesia menunnjukkan jati dirinya sebagai agama yg moderat dan rahmatan lil alamin, ditambah dgn pribadi orang Indonesia yang terkenal santun dan menghormati sesama. Orang islam di Indonesia berfaham Ahlussunnah wal jama’ah. Mayoritas bermadzhab Syafi’i dalam fikih, al-Asy’ari dalam aqidah, Imam Junaid al-Baghdadi dan al-Ghazali dalam bidang tasawuf, dan riwayat Imam Hafsh an Ashim dalam bidang qiro’ah. Adapun mereka yang minoritas, masih tetap dalam koridor Ahlussunnah wal Jama’ah. Kalaupun ada perbedaan, mungkin hanya pada masalah furu’iyah. Bahkan perbedaan dengan non-muslim sendiri tidak sampai menimbulkan perpecahan dan pertikaian, karena watak Indonesia yang santun, menhormati sesama dan dewasa dalam menyikapi perbedaan.

Di era globalisasi ini, semua informasi dapat diakses dengan mudah, sehingga kebudayaan dan faham yang berasal dari luar seringkali mengikis kebudayaan lokal, bahkan menghilangkannya. Faham radikal yang masuk ke Indonesia akan menggerogoti identitas dan menuai konflik. Sedangkan faham liberalisme barat dapat menimbulkan kemersotan moral dan mental para pemuda.

Sebagai orang muslim di Indonesia, kita harus bangga. Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Islam di Indonesia dan nusantara terkenal dengan faham Ahlussunnah wal Jama’ah, moderat dan toleran. Jangan silau dengan produk luar negeri yang belum tentu cocok diterapkan di Indonesia, bahkan mungkin malah bertentangan. Indonesia jangan sampai kehilangan identitas. Dengan mengkonsumsi faham-faham radikal yg membahayakan NKRI, atau ikut tergabung didalamnya berarti kita telah kehilangan identitas. Dengan mengikuti budaya barat yang liberal berarti kita telah mencopot identitas.

Kalau kita amati, Negara-negara timur tengah yang mudah menuai konflik merupakan negara yang telah kehilangan identitasnya, sehingga bisa dengan mudah disetir oleh kelompok atau oknum dari luar. Contohnya Yaman, kawasan konflik merupakan daerah berpredikat Shufi dengan madzhab Syafi’iah dan Zaidiyah, yang telah kehilangan identitasnya. Karena justru faham Syi’ah Imamiyah dan Salafiyah Wahabiyah yg berkuasa di daerah tersebut. Hadhramaut yang menjaga identitas keshufiannya dan madzhab syafi’i tidak pernah menuai konflik walaupun dalam kondisi perang. Di Indonesia sendiri, pemicu konflik dan kekacauan adalah faham radikal yang diadopsi dari luar. ThohirinSdQ/Danis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes