News
Home » Hujjah Aswaja » Tarawih Cepat? Mengapa Tidak! Ini Panduannya
Tarawih Cepat? Mengapa Tidak! Ini Panduannya

Tarawih Cepat? Mengapa Tidak! Ini Panduannya

Di bulan Ramadhan, selalu saja diwarnai dengan pandangan ‘negatif’ terhadap pelaksanaan shalat tarawih yang dilakukan dengan cepat. Padahal shalat cepat bisa saja dilakukan bila memahami aturan yang dijelaskan ulama madzhab. Dahulu, para ulama pun shalat ratusan, bahkan ribuan raka’at hanya dalam satu malam.

Selama syarat dan rukun shalat terpenuhi dengan baik, maka shalat apapun hukumnya sah secara fiqh, baik shalat cepat maupun lambat. Adapun soal diterima atau tidak oleh Allah SWT, itu hak prerogratif Allah untuk menerima atau sebaliknya.

Memang, seringkali shalat cepat mengabaikan salah satu rukun daripada shalat. Namun, pada dasarnya pengabaian terhadap bagian dari rukun shalat itu bukan disebabkan cepat atau lambatnya shalat, tetapi kebanyakan karena kurang memahami terhadap rukun (fardlu) shalat.

Shalat cepat, mengapa tidak! Di dalam shalat, rukun (fardlu) yang bersifat qauliyah, antara lain takbiratul ihram, surah al-Fatihah, tasyahud dan shalawat dalam tasyahud, serta salam. Adapun bacaan lainnya termasuk daripada sunnah-sunnah shalat yang tidak akan menyebabkan shalat tidak sah atau batal bila meninggalkannya.

Ada beberapa tips secara fiqih sebagai aturan dalam melaksanakan shalat dengan cepat.

1. Niat dan Takbir

Takbiratul Ihram dilakukan bersamaan dengan niat di dalam hati. Keduanya merupakan bagian daripada rukun shalat. Lafadz takbiratul Ihram adalah Allahu Akbar (ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ) atau Allahul Akbar (ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฃูƒุจุฑ). Dua lafadz takbir ini diperbolehkan, kecuali oleh Imam Malik, sehingga ulama menyarankan agar hanya menggunakan lafadz “Allahu Akbar”, untuk menghindari khilaf ulama.

Niat di dalam hati. Adapun melafadzkan niat dihukumi sunnah agar lisan bisa membantu hati dalam menghadirkan niat. Niat shalat wajib hanya perlu memenuhi 3 unsur, yaitu: (1). Qashdul fi’il (menyengaja suatu perbuatan) seperti lafadh Ushalli (sengaja aku shalat…); (2). Ta’yin (menentukan jenis shalat), seperti Dhuhur, ‘Asar, dan lain-lain; dan (3) Fardliyyah (menyatakan kefardluannya), seperti lafadz ‘Fardlan’.

Sedangkan shalat sunnah (kecuali sunnah muthlaq) hanya perlu memenuhi 2 unsur, yaitu Qashdul Fi’li dan Ta’yin. Misalnya shalat tarawih, maka niatnya cukup dengan lafadh “sengaja aku shalat tarawih” atau “sengaja aku shalat qiyam ramadlan”, sudah mencukupi.

Setelah takbir disunnahkan membaca do’a Iftitah, dan ini bisa ditinggalkan.

2. Membaca Surah Al-Fatihah

Membaca surah al-Fatihah hukumnya wajib, tidak bisa ditinggalkan. Dalam hadits shahih dijelaskan “ู„ุง ุตูŽู„ุงูŽุฉ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูููŽุงุชูุญูŽุฉ ุงู„ูƒูุชุงุจู (Tidak shalat kecuali dengan surah Al-Fatihah)”. Dalam hal ini, diperlukan kemahiran membaca cepat dengan tetap menjaga makhrijul huruf dan tajwidnya. Bila mampu, boleh saja membaca dengan satu kali nafas atau washol seluruhnya selama tidak mengubah makna.

Membaca surah al-Qur’an setelah al-Fatihah, hukumnya sunnah. Bila ditinggalkan maka tidak disunnahkan sujud sahwi. Oleh karena, Imam hendaknya tetap membaca surah walaupun pendek, bahkan walaupun satu ayat.

Sedangkan bagi makmum, sering kali tidak memiliki cukup waktu membaca surah Al-Fatihah bila menunggu imam selesai. Oleh karena itu, makmum hendaknya bisa memperkirakan lama bacaan surah Imam atau membaca al-Fatihah bersamaan dengan Imam, atau pada pertengahan bacaan Al-Fatihah imam lalu disambung kembali saat selesai mengucapkan amin.

Dalam membaca surah al-Fatihah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya:

a. Ulama Syafi’i dan ulama lainnya memperbolehkan membaca surah Al-Fatihah dalam shalat dengan salah satu qira’ah sab’ah, dan tidak membolehkan qira’ah syaddah. Namun apabila membaca dengan qira’ah syaddah tanpa terjadi perubahan pada maknanya, tidak ada tambahan atau pengurangan huruf maka shalatnya tetap sah.

b. Wajib membaca surah Al-Fatihah dengan keseluruhan huruf-hurufnya dan tasydid-tasydinya yang berjumlah 14 tasydid.

c. Apabila membaca dengan Lahn (irama/langgam) yang mengubah makna maka tidak sah bacaan dan shalatnya bila disengaja. Bila tidak sengaja maka wajib diulang bacaannya.

3. Ruku’, I’tidal, Sujud dan Duduk Diantara Dua Sujud

Yang terpenting dari rukun-rukun shalat diatas adalah thuma’ninah. Thuma’niah adalah berhenti sejenak setelah bergerak, lamanya sekadar membaca tasbih (Subhanallah). Kira-kira 1 detik atau tidak sampai 1 detik.

Bacaan dalam ruku’, i’tidal, sujud dan duduk diantara dua sujud hukumnya sunnah, sehingga bisa ditinggalkan. Namun shalat cepat, bacaan tersebut ย sangat mencukupi untuk membacanya sehingga sebaiknya tidak ditinggalkan.

4. Tasyahudย 

Tasyahud akhir hukumnya wajib, sehingga tidak boleh ditinggalkan. Sedangkan tasyahhud awal bagi shalat yang lebih dari 2 raka’at hukumnya sunnah, ย sehingga bisa saja ditinggalkan, tetapi disunnahkan sujud sahwi, baik ditinggalkan karena lupa maupun sengaja. Tasyahhud dibaca secara sir (lirih) berdasarkan ijma’ kaum muslimin.

Shalat tarawih dikerjakan dengan 2 raka’at satu kali salam, artinya hanya ada tasyahhud akhir.

Bacaan Tasyahhud

Ada beberapa bacaan tasyahhud sebagaimana dalam riwayat-riwayat hadits. Diantaranya :

a. Riwayat Ibnu Mas’ud : ุงู„ุชู‘ูŽุญููŠู‘ูŽุงุชู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจุงุชูุŒ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฃูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจูŠู‘ู ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ุŒ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠู†ุง ูˆุนู„ู‰ ุนุจุงุฏ ฺ†ู„ู„ู‡ ุงู„ุตุงู„ุญูŠู†ุŒ ุฃุดู‡ุฏู ุฃู†ู’ ู„ุง ุฅูู„ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ูˆุฃุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏุงู‹ ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู

b. Riwayat Ibnu ‘Abbas : ุงู„ุชู‘ูŽุญููŠู‘ูŽุงุชู ุงู„ู…ูุจุงุฑูŽูƒุงุชูุŒ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆุงุชู ุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจุงุชู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฃูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจูŠู‘ู ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ุŒ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠู†ุง ูˆุนู„ู‰ ุนูุจุงุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽุŒ ุฃุดู‡ุฏู ุฃู†ู’ ู„ุง ุฅูู„ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ุŒ ูˆุฃู† ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏุงู‹ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

c. Riwayat Abu Musa al-Asy’ari : ุงู„ุชู‘ูŽุญููŠู‘ูŽุงุชู ุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจุงุชู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฃูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ุจูŠ ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ุŒ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠู†ุง ูˆุนู„ู‰ ุนูุจุงุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽุŒ ุฃุดู‡ุฏู ุฃู†ู’ ู„ุง ุฅูู„ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ูˆุฃู†ู‘ูŽ ู…ุญูŽู…ู‘ูŽุฏุงู‹ ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู

d. Riwayat lainnya : ุงู„ุชู‘ูŽุญููŠู‘ูŽุงุชู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจุงุชูุŒ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฃูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจูŠู‘ู ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ุŒ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠู†ุง ูˆุนู„ู‰ ุนูุจุงุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽุŒ ุฃุดู‡ุฏู ุฃู†ู’ ู„ุง ุฅูู„ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ูˆุฃุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏุงู‹ ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡

e. ุงู„ุชู‘ูŽุญููŠู‘ูŽุงุชู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุงู„ุฒู‘ูŽุงูƒููŠุงุชู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจุงุชู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฃูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจูŠู‘ู ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ุŒ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠู†ุง ูˆุนู„ู‰ ุนูุจุงุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽุŒ ุฃุดู‡ุฏู ุฃู†ู’ ู„ุง ุฅูู„ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ูˆุญุฏูŽู‡ ู„ุง ุดุฑูŠูƒูŽ ู„ู‡ุŒ ูˆุฃุดู‡ุฏู ุฃู†ู‘ูŽ ู…ุญู…ุฏุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู

f. ุงู„ุชู‘ูŽุญููŠู‘ูŽุงุชู ุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจุงุชู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ุงู„ุฒู‘ูŽุงูƒููŠุงุชู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุฃุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃู†ู’ ู„ุง ุฅูู„ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ูˆุฃู† ู…ุญู…ุฏุง ุนุจุฏู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ุŒ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ุฃูŠู‡ุง ุงู„ู†ุจูŠ ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ุŒ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠู†ุง ูˆุนู„ู‰ ุนูุจุงุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽ

g. ุงู„ุชู‘ูŽุญููŠู‘ูŽุงุชู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ุงู„ุทูŽูŠู‘ูุจุงุชู ุงู„ุฒู‘ูŽุงูƒููŠุงุชู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุฃุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃู†ู’ ู„ุง ุฅูู„ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ูˆุญุฏูŽู‡ ู„ุง ุดุฑูŠูƒ ู„ู‡ุŒ ูˆุฃู† ู…ุญู…ุฏุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ูุŒ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงู…ู ุนู„ูŠูƒ ุฃูŠู‡ุง ุงู„ู†ุจูŠ ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ุŒ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠู†ุง ูˆุนู„ู‰ ุนูุจุงุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽ

h. ุจุณู… ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุงู„ุชู‘ูŽุญููŠู‘ูŽุงุชู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุงู„ุฒู‘ูŽุงูƒููŠุงุช ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงู…ู ุนู„ู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒุงุชูู‡ูุŒ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ุง ูˆูŽุนู„ู‰ ุนูุจุงุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽุŒ ุดูŽู‡ูุฏู’ุชู ุฃู†ู’ ู„ุง ุฅู„ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุดูŽู‡ูุฏู’ุชู ุฃู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏุงู‹ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

Imam Al-Baihaqi mengatakan bahwa yang tsabit dari Rasulullah Saw ada tiga hadits: hadits Ibnu Ma’sud, Ibnu ‘Abbas dan Abu Musa al-Asy’ari. Ulama lainnya mengatakan bahwa ketiganya shahih, dan yang paling shahih hadits Ibnu Mas’ud.

Imam al-Nawawi mengatakan, boleh memakai tasyahhud yang mana saja, sebagaimana nash Imam al-Syafi’i dan ulama lainnya. Namun, menurut Imam al-Syafi’i, yang paling utama (afdlol) adalah hadits Ibnu ‘Abbas karena ada tambahan lafadh al-Mubarakatu (ุงู„ู…ูุจุงุฑูŽูƒุงุชู).

Bolehkah Membuang Bagian Daripada Tasyahhud?

Dalam hal ini, ada beberapa rincian, bahwa lafadz al-Mubarakatu, al-Shalawatu, al-Thayyibatu, dan al-Zakiyyatu (ุงู„ู…ุจุงุฑูƒุงุชุŒ ูˆุงู„ุตู„ูˆุงุชุŒ ูˆุงู„ุทูŠุจุงุช ูˆุงู„ุฒุงูƒูŠุงุช) hukumnya sunnah, bukan syarat daripada tasyahhud.

Seandainya pun membuang semuanya lalu mempersingkatnya menjadi “At-Tahiyyatu Lillahi Assalamu’alaika Ayyuhannabiyyu… dan seterusnya (ุงู„ุชุญูŠุงุช ู„ู„ู‘ูŽู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ุฃูŠู‘ูู‡ุง ุงู„ู†ุจูŠู‘ … ุฅู„ู‰ ุขุฎุฑู‡), maka hukumnya boleh. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan didalam madzhab Syafi’iyah.

Sedangkan lafadh “Assalamu’alaika Ayyuhannabiyyu .. dan seterusnya (ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ุฃูŠู‘ูู‡ุง ุงู„ู†ุจูŠู‘ู … ุฅู„ู‰ ุขุฎุฑู‡), wajib dibaca semuanya. Tetapi dalam dalam ini pun masih ada pengecualian yaitu pada lafadh “Wa Rahmatullah wa Barakatuh (ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡)”.

Bolehkah Membuang Lafadh “ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡”?
Dalam hal ini, setidaknya ada tiga pendapat:

Pertama, pendapat yang paling shahih, adalah tidak boleh membuang satu pun dari lafadh tersebut.

Kedua, boleh membuang dua lafadh tersebut”ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡”.

Ketiga, boleh membuang lafadh “wa Barakatuh ( ูˆุจุฑูƒุงุชู‡)”, tetapi tidak boleh membuang lafadh “wa Rahmatullah (ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡)”.

Diantara ulama Syafi’iyah, ada yang mengatakan bahwa boleh mempersingkat tasyahhud dengan semisal lafadh ุงู„ุชุญูŠุงุช ู„ู„ู‘ูŽู‡ุŒ ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ุฃูŠู‘ู‡ุง ุงู„ู†ุจูŠู‘ุŒ ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ุนูุจุงุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽุŒ ุฃุดู‡ุฏู ุฃู†ู’ ู„ุง ุฅูู„ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ูˆุฃู†ู‘ูŽ ู…ุญู…ุฏุงู‹ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡.

Lafadh Salam dalam Tasyahhud

Lafadh salam dalam banyak riwayat menggunakan Alif Lam (AL), yaitu ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ุฃูŠู‘ูู‡ุง ุงู„ู†ุจูŠู‘ dan ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠู†ุง.., namun sebagian riwayat ada yang tidak menyertakan Ali Lam (AL) yaitu ุณู„ุงู….

Sebagian ulama Syafi’iyah mengatakan, keduanya (baik dengan AL atau tanpa AL) hukumnya boleh, namun yang paling utama (afdlol) adalah menggunakan Alil Lam (AL) karena riwayatnya lebih banyak dan dalam rangka kehati-hatian (ihtiyath).

Tertib dalam Membaca Tasyahhud

Tertib (urut) dalam membaca tasyahhud hukumnya sunnah, tidak wajib. Seandainya pun mendahulukan bagian satu dengan yang lain, maka diperbolehkan menurut pendapat yang shahih yang dipilih (al-shahih al-mukhtar). Tetapi ada pula pendapat yang tidak memperbolehkan.

5. Shalawat Kepada Nabi Saw

Shalawat kepada Nabi Muhammad Saw setelah tasyahhud akhir hukumnya wajib, sehingga tidak sah shalat seseorang apabila meninggalkan shalawat. Sedangkan shalawat kepada keluarga Nabi tidak wajib dalam madzhab Syafi’i, namun hukumnya sunnah menurut pendapat yang shahih serta masyhur. Sebagian ulama Syafi’i mengatakan tetap wajib.

Lafadh shalawat yang afdlol adalah

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ู ุนู„ู‰ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุนูŽุจู’ุฏููƒูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ููƒูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ ุงู„ุฃูู…ู‘ููŠุŒ ูˆูŽุนูŽู„ู‰ ุขู„ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุฃุฒู’ูˆูŽุงุฌูู‡ู ูˆูŽุฐูุฑู‘ููŠู‘ูŽุชูู‡ุŒ ูƒู…ุง ุตูŽู„ู‘ูŽูŠู’ุชูŽ ุนู„ู‰ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ูˆูŽุนู„ู‰ ุขู„ู ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ูˆูŽุจุงุฑููƒู’ ุนู„ู‰ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ ุงู„ุฃูู…ู‘ููŠู‘ุŒ ูˆูŽุนูŽู„ู‰ ุขู„ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุฃุฒู’ูˆูŽุงุฌูู‡ู ูˆูŽุฐูุฑู‘ูŠู‘ูŽุชูู‡ูุŒ ูƒู…ุง ุจุงุฑูŽูƒู’ุชูŽ ุนู„ู‰ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽุŒ ูˆูŽุนูŽู„ู‰ ุขู„ู ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ูููŠ ุงู„ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุญูŽู…ููŠุฏูŒ ู…ูŽุฌููŠุฏูŒ

Diantaranya juga yang wajib adalah boleh menggunakan lafadh ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู…ู‘ ุตู„ู‘ู ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ atau ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ atau ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุฑุณูˆู„ู‡ atau ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ, tetapi didalam madzhab Syafi’i ada yang tidak membolehkan lafadh tersebut kecuali lafadh Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad (ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู… ุตู„ู‘ู ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ).

Do’a setelah tasyahhud hukum sunnah, sehingga bisa ditinggalkan.

6. Salam

Salam dalam rangka keluar dari shalat termasuk bagian daripada rukun/fardlu shalat. Bila ditinggalkan maka tidak sah shalat seseorang. Salam yang sempurna menggunakan lafadh Assalamu’alaikum wa Rahmatullah ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ke kanan satu kali dan ke kiri satu kali.

Salam yang wajib hanya satu kali, sedangkan salam kedua hukumnya sunnah sehingga bila ditinggalkan tidak akan merusak shalat.

Lafadh Salam

Lafadh salam adalah Assalamu’alaikum (ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู…). Bila mengucapkan salam dengan Salamun ‘Alaikum (ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู…) tidak mencukupi menurut pendapat yang lebih shahih (Ashoh), tetapi menurut pendapat yang Ashoh, boleh seandainya mengucapkan salam dengan lafadh ‘Alaikumussalam (ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงู…).

Demikian beberapa hal terkait dengan mempersingkat shalat, namun tetap menjaga aturan-aturan yang sudah diterangkan oleh para ulama. Semoga bermanfaat.

Abdurrohim, Alumni Pondok Pesantren Manba’us Salam al-Islami Bangkalan Madura.

Sumber: NU Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

BIGTheme.net โ€ข Free Website Templates - Downlaod Full Themes