News
Home » Tokoh » Gus Miek: Wajah Sebuah Kerinduan
Untitled-2
Gus Miek: Wajah Sebuah Kerinduan

Gus Miek: Wajah Sebuah Kerinduan

Oleh : KH. Abdurrahman Wahid

gus-dur-dan-gus-miekTiga tahun lalu, di beranda sebuah surau di Tambak, desa Ploso, Kediri saya berhasil mengejarnya.
Mobil yang saya tumpangi menelusuri kota Kediri sebelum melihat mobil Gus Miek di sebuah gang, tengah meninggalkan tempat itu.
Dalam kecepatan tinggi mobilnya menuju ke arah selatan dan hanya kami bayangi dari kejauhan. Setelah membelok ke barat dan
kemudian ke utara melalui jalan paralel, akhirnya mobil itu berhenti di depan surau tersebut.
Gus Miek sudah meninggalkan mobilnya menuju ke surau itu, ketika mobil tumpangan saya sampai. la terkejut melihat kedatangan saya,
karena dikiranya saya adalah adiknya, Gus Huda. Rupanya mobil tumpangan saya sama warna dan merek dengan mobil adiknya itu.

Dari beranda itu ia menunjuk sebidang tanah yang baru saja disarnbungkan ke pekarangan surau dan berkata kepada saya,
“Di situ nanti Kiai Achmad akan dimakamkan. Demikian juga saya. Dan nantinya sampeyan. Dikatakan, tanah itu sengaja dibelinya
untuk tempat penguburan para penghafal AI-Qur’an. Saya katakan kepadanya, bahwa saya bukan penghafal AI-Qur’an.
Dijawabnya bahwa bagairnanapun saya harus dikuburkan di situ. Setahun kemudian, ketika KH Achmad Siddiq wafat,
beliau pun di kuburkan di tempat itu atas permintaan Gus Miek. Baru saya sadari bahwa Kiai Achmad yang dimaksudkannya setahun sebelum itu adalah KH Achmad Siddiq.

Hal-hal seperti inilah yang seringkali dijadikan bukti oleh orang banyak,bahwa KH Hamim Jazuli alias Gus Miek adalah seorang dengan kemampuan supernatural.
Sesuai dengan “tradisi” penyempitan makna lstilah,orang awam menyebutnya dengan istilah wali (Saint). Kemampuan supernatural KH Hamiem alias Gus Miek itu, dalam istilah eskatologi orang pesantren, dinamakan khoriqul’adah, alias keanehan-keanehan. Dengan bennacam-macam keanehan yang dimilikinya,
Gus Miek lalu memperoleh status orang keramat. Banyak “kesaktian” ditempelkan pada reputasinya. Mau banyak rezeki, harus memperoleh berkahnya.
Ingin naik pangkat, harus didukung olehnya. Mau beribadah haji, harus dimakelarinya. Mau gampang jodoh, minta pasangan kepadanya. Dan demikian seterusnya.

Reputasi sebagai orang keramat ini, dinilai sebagai pendorong mengapa banyak orang berbondong-bondong memadati acara keagamaan
yang dilangsungkan oleh Gus Miek. Sema’an (bersama-sama mendengarkan bacaan AI-Qur’an oleh para penghafalnya) yang diselenggarakannya
di mana-mana, selalu penuh sesak oleh rakyat banyak. Dari pagi orang bersabar mendengarkan bacaan AI-Qur’an, untuk mengamini doa yang dibacakan Gus Miek
seusai menamatkan bacaan AI-Qur’an secara utuh, biasanya sekitar jam delapan rnalarn. Bersabar mereka menanti sepanjang hari,
untuk memperoleh siraman jiwa berupa mauizah hasanah (petuah yang baik) dari tokoh kiai kharismatik ini. Padahal, sepagian itu ia masih tidur,
setelah begadang semalam suntuk. Itulah acara rutinnya, di mana pun ia berada.

Baru belakangan orang menyadari, bahwa Gus Miek menempuh dua pola kehidupan sekaligus. Kehidupan tradisional orang pesantren, tertuang dalam rutinitas semaan,
dan gebyarnya kehidupan dunia hiburan modern. Gebyar, karena dia selamanya berada di tengah diskotik, night club, coffee shop dan “arena persinggahan perkampungan”
orang-orang tuna susila.

Tidak tanggung-tanggung, ia akrab dengan seluruh penghuni dan aktor kehidupan tempat tersebut. Yang ditenggaknya adalah bir hitam, yang setiap malam
ia nikmati berbotol-botol. Rokoknya Wismilak bungkus hitam, yang rarnuannya diakui berat.

Kontradiktif? Ternyata tidak, karena di kedua tempat itu ia berperan sama. Memberi kesejukan kepada jiwa yang gersang, memberikan harapan kepada mereka yang putus asa,
menghibur mereka yang bersedih, menyantuni mereka yang lemah dan mengajak semua kepada kebaikan. Apakah itu peluah di pengajian sesuai semaan,
sewaktu konsultasi pribadi dengan pejabat dan kaum elite lainnya, atau pun ketika meladeni bisikan kepedihan yang disampaikan dengan suara lirih
ke telinganya oleh wanita-wanita penghibur, esensinya tetap sama. Manusia mempunyai potensi untuk memperbaiki keadaannya sendiri.

Dua tahun yang lalu, Gus Miek mengatakan kepada saya, bahwa saya harus mundur dari NU. Saya baca hal itu sebagai hirnbauan, agar saya teruskan perjuangan
menegakkan demokrasi di negeri kita, tetapi dengan tidak “merugikan” kepentingan organisasi yang saat ini sedang saya pimpin. Dikatakan, sebaiknya saya
mengikuti jejaknya berkiprah secara individual melayani semua lapisan masyarakat. Saya tolak ajakan itu dua tahun yang lalu, karena saya beranggapan perjuangan
melalui NU masih tetap aktif.

Baru sekarang saya sadari, menjelang saat kepulangan Gus Miek ke haribaan Tuhan, bahwa ia membaca tanda zaman lebih jeli dari pada saya.
Bahwa dengan “menggendong” beban NU, upaya menegakkan demokrasi tidak menjadi semakin mudah. Karena para pemimpin NU yang lain justru tidak ingin kemapanan
yang ada diusik orang. Dari tokoh inilah saya belajar untuk membedakan apa yang menjadi pokok persoalan, dan apa yang sekadar ranting.

Tetapi, Gus Miek juga hanyalah manusia biasa. Manusia yang memiliki kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan. Keseimbangan hidupnya tidak bertahan
lama oleh ketimpangan pendekatan yang diambilnya. la menjadi terlalu rnemperhatikan kepentingan orang-orang besar dan para pemimpin tingkat nasional.
Ia juga tidak menjadi imun terhadap kenikmatan dunia hidup gebyar. Untuk beberapa bulan hubungan saya dengan Gus Miek secara batin menjadi sangat terganggu
karena hal-hal itu. Saya menolak untuk mendukung jagonya untuk jabatan Wapres, dan ini membuat ia tidak enak perasan kepada saya.

Mungkin, tidak dipahaminya keinginan saya agar agama tidak dimanipulasikan dengan politik negara. Tugas pemimpin agama adalah untuk menjaga keutuhan bangsa
dan negara dan berupaya agar kebenaran dapat ditegakkan. Sedang kebenaran itu akan terjelma melalui kedaulatan rakyat yang sesungguhnya, kedaulatan hukum,
kebebasan dan persamaan perlakuan di muka undang-undang.

Tetapi, sejauh apa pun hubungan kami berdua, saya sendiri tetap rindu kepada Gus Miek. Bukan kepada gebyarnya dunia hiburan. Tetapi bahwa kalau malam,
menjelang pagi, ia tidur beralaskan kertas koran di rumah Pak Syafi’i Ampel di kota Surabaya, atau Pak Hamid di Kediri. Yang dimiliki Pak Hamid hanyalah
sebuah kursi plastik jebol dan dua buah gelas serta teko logam. ltulah dunia Gus Miek yang sebenarnya, yang ditinggalkannya untuk beberapa bulan mungkin
hanya sebagai sebuah kelengkapan lakonnya yang panjang. Agar ia tetap masih menjadi manusia, bukan malaikat.

Yang selalu saya kenang adalah kerinduannya kepada upaya perbaikan dalam diri manusia. Karena itu, ulama idolanya pun adalah yang membunyikan lonceng
harapan dan genta kebaikan, bukan hardikan dan kemarahan kepada hal-hal yang buruk. Tiap 40 hari sekali ia mengaji di makarn Kiai lhsanJampes, yang terletak
di tepi Brantas di dukuh Mutih, pinggiran kota Kediri. la gandrung kepada Mbah Mesir yang dimakamkan di Trenggalek, pembawa tarekat Sadziliyah
dua ratus tahun yang lalu ke Jawa Timur. Tarekat itu adalah tarekatnya orang kecil, dan mernbimbing rakyat awam yang penuh kehausan rasa kasih
dan sapaan yang santun.

Gus Miek inilah yang melalui transendensi keimanannya tidak lagi melihat “kesalahan” keyakinan orang beragama atau berkepercayaan lain.
Ayu Wedayanti yang Hindu diperlakukannya sama dengan Neno Warisman yang muslimah, karena ia yakin kebaikan sama berada pada dua orang penyanyi tersebut.
Banyak oring Katolik menjadi pendengar setia wejangan Gus Miek seusai semaan.

Kerinduannya kepada realisasi potensi kebaikkan pada diri manusia inilah yang menurut saya supernatural. Bukan karena ia menyalahi ketentuan bukum-hukurn alam.
Super karena ia rnampu mengatasi segala macam jurang pemisah dan tembok penyekat antara sesama manusia. Natural, karena yang ia harapkan
hanyalah kebaikan bagi manusia. Kalau ia dianggap nyleneh (khoriqul’adah) , maka dalam artian inilah ia harus dipahami demikian.
Bukankah nyleneh, orang yang tidak peduli batasan agama, etnis dan profesi dan tidak hirau apa yang dinamakan baik dan buruk
di mata kebanyakan manusia, sementara manusia saling menghancurkan dan membunuh?

*ditulis pada selasa, 23 Februari 1993

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes